Perkuat Koordinasi, Implementasi PM-AAS di NTB
Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Nusa Tenggara Barat terus memperkuat sinergi dan koordinasi dalam percepatan implementasi Pertanian Modern Advance Agriculture System (PM-AAS) sebagai salah satu strategi Kementerian Pertanian untuk meningkatkan produktivitas padi dan mendukung terwujudnya swasembada pangan berkelanjutan.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui Rapat Koordinasi dan Konsolidasi Penyuluh Pertanian dalam Rangka Percepatan PM-AAS Provinsi Nusa Tenggara Barat yang dilaksanakan secara luring dan daring di Aula Mandalika BRMP NTB, Kamis (16/7/2026).
Kegiatan ini diikuti oleh Kepala BRMP NTB, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTB, Penanggung Jawab Swasembada Pangan Provinsi NTB, para Ketua Tim Kerja dan Penyuluh Kabupaten/Kota se-NTB, Penanggung Jawab PM-AAS Kabupaten/Kota, Koordinator Penyuluh Kecamatan, penyuluh pertanian BRMP NTB, serta CWS Penyuluh Pertanian NTB.
Menurutnya, target implementasi PM-AAS di Provinsi NTB pada tahun 2026 mencapai 28.565 hektare dengan dukungan 1.092 penyuluh pertanian, sehingga setiap penyuluh memiliki tanggung jawab mendampingi sekitar 26 hektare areal PM-AAS.
Sebagai bentuk dukungan terhadap implementasi PM-AAS, BRMP NTB telah mengembangkan demonstration farm (denfarm) seluas 100 hektare di Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, yang berfungsi sebagai lokasi percontohan dan pembelajaran bagi penyuluh serta petani dalam menerapkan teknologi PM-AAS.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTB Lalu Mirza Amir Hamzah Bapuangan, S.P., M.M. menegaskan bahwa NTB memiliki peran strategis sebagai salah satu lumbung pangan nasional. Oleh karena itu, keberhasilan PM-AAS memerlukan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, khususnya penyuluh pertanian sebagai ujung tombak pendampingan petani.
Menurutnya, sektor pertanian saat ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perubahan iklim ekstrem, penurunan kualitas lahan, hingga alih fungsi lahan pertanian akibat pertumbuhan penduduk. Kondisi tersebut menuntut hadirnya inovasi teknologi budidaya yang lebih modern dan efisien.
"PM-AAS merupakan salah satu terobosan untuk meningkatkan produktivitas melalui mekanisasi, efisiensi penggunaan sumber daya, dan penerapan teknologi spesifik lokasi. Karena itu, sinergi seluruh pihak menjadi sangat penting agar program ini dapat berhasil di lapangan," jelasnya.
Pada sesi teknis, peserta memperoleh pembekalan mengenai dukungan program Eselon I Kementerian Pertanian dalam percepatan PM-AAS, metode budidaya PM-AAS, serta mekanisme penyusunan dan pengusulan Calon Petani Calon Lokasi (CPCL) melalui aplikasi e-Banper. Materi tersebut diharapkan dapat memperkuat pemahaman penyuluh dalam mengawal implementasi PM-AAS sesuai petunjuk teknis yang telah ditetapkan.
Sebagai tindak lanjut, peserta berkomitmen mempercepat penyusunan CPCL untuk mendukung target penanaman PM-AAS periode Juli–September 2026, dengan pengusulan CPCL ditargetkan selesai paling lambat 20 Juli 2026.
Melalui penguatan koordinasi dan pendampingan di lapangan, implementasi PM-AAS diharapkan mampu mempercepat modernisasi pertanian serta meningkatkan produktivitas padi di Provinsi NTB